ANALISIS ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT “ENYENG” DI DESA CIPANCAR SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMA

Authors

  • Arip Budiman STKIP Sebelas April Sumedang

Keywords:

Aspek Sosial, Aspek Budaya, Cerita Rakyat

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin derasnya arus teknologi informasi yang membuat cerita rakyat menghadapi tantangan untuk tetap tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kurang menariknya penyajian materi cerita rakyat di sekolah membuat cerita rakyat semakin terabaikan. Untuk mendongkrak hal tersebut maka perlu adanya analisis terhadap karya sastra, agar karya sastra tersebut dapat digunakan sebagai pemilihan bahan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat aspek sosial dan budaya. Aspek sosial yang paling banyak muncul dalam cerita rakyat “Enyeng” adalah karakteristik masyarakat pedesaan yang mencerminkan jika diberi janji akan selalu diingat dengan frekuensi 3 buah. Hal ini membuktikan bahwa warga desa Cipancar sangat memegang teguh janji dan amanah dari leluhurnya. Sedangkan nilai budaya yang paling banyak muncul dalam cerita rakyat “Enyeng” adalah sistem religi dengan frekuensi 3 buah. Ini membuktikan bahwa mayarakat desa Cipancar masih memegang teguh ajaran tentang apa yang harus dipercayai, diyakini dan diimani oleh setiap orang Islam. Tradisi lisan untuk mengganti nama hewan kucing/ucing dengan ènyèng/emèng/mèong merupakan hasil budaya dari generasi-kegenerasi, kemudian mereka memegang teguh pada keyakinannya yang dikukuhkan oleh legenda dan mitos dalam bentuk tradisi lisan. Walaupun mereka menerima budaya luar yang datang dan mereka mengikuti kemajuan/budaya modern, namun mereka tetap memegang teguh keyakinannya, dimanapun mereka berada atau sekalipun dalam perantauan.

References

Abdurachman, A. (2009). Pantun Melayu: Titik Temu Islam dan Budaya Lokal Nusantara. Yogyakarta: LKis.

Djajasudarma, F. T. (1999). Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: PT Refika Aditama.

Endarswara, S. (2005). Metodologi Penelitian Sastra (Epistomologi, Model, Teori, dan Aplikasi). Yogyakarta: Media Pressindo.

Hidayat, K. (1991). Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Bina Cipta

Koentjaraningrat. (2000). Kebudayaan Mentalitas Dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kosasih. (2012). Dasar-dasar Ketrampilan bersastra. Bandung:Yrama Widya.

Lipsey, Richard, G. dan Steiner, Peter, O. (1991). Pengantar Ilmu Ekonomi I Edisi Keenam. Jakarta: Rineka Cipta.

Luxemburg, J V. dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: PT Gramedia.

Nasution. (1998). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Nurgiyantoro, B. (2005). Sastra Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ratna, N. K. (2011). Antropologi Sastra: Peranan Unsur-unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar.

Ritonga, M. T dan Firdaus, Y. (2007). Ekonomi untuk SMA kelas X. Jakarta: Phibeta.

Rusyana, Y. (1984). Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV. Diponegoro.

Soetardjo. (1984). Desa. Yogyakarta: PN Balai Pustaka.

Stanton, R. (2012). Teori Fiksi Robert Stanton. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Sudjiman, P. (1988). Memahami Cerita Rekaan. Jakarta : Pustaka Jaya.

Teeuw. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Erlangga.

Untara, W. (2014). Kamus Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Indonesia Tera.

Waluyo, Herman, J. (1987). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Wellek, R, dan Warren, A. (1989). Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Zulkarnaen dan Beni, A. S. (2012). Hukum Konstitusi. Bandung: Pustaka Setia.

Published

2018-02-13